Engkau Bagai Malaikat Kecilku

Jiwa titipan Tuhan, engkau bagai malaikat kecilku, pelipur lara, penawar dahaga, penghapus lelah.

Engkau bagai bintang, walaupun redup sinarmu mampu menerangi gelapku, engkau bagai embun walaupun setetes mampu menyejukkanku

Malaikat kecilku matamu begitu berbinar ketika menyambut kepulanganku, derai tawamu membahana  diseluruh ruang nadiku, gelak candammu menjadi denyut setiap detak jantungku

Malaikat kecilku, rengekanmu adalah semangat dalam setiap desah nafasku, tangis dan sakitmu adalah alasan ku untuk tetap bertahan disini.

Malaikat kecilku,  memelukmu adalah kebahagiaanku, memilikimu adalah anugerah terindah di hidupku.

Malaikat kecilku, disetiap sujudku berderet pinta tersisip dalam do’a. Semoga Allah menebarkan ridha Nya dalam setiap langkahmu.

#untuk Ayu Tiara, Dinda permata, Affan Alfathan & Fariz Althaf

Ijinkan Aku Pergi

Bukan sekedar tarian pena. Bukan sekedar permainan kata. Goresan tinta yang mengering berpeluk hakekat …akan rasa yang terbunuh oleh lara…

Maafkan daku, karena tidak menunggu kepulanganmu…Maafkan daku karena tidak penuhi janjiku untuk setia padamu…Maafkan daku, karena aku tidak lagi menyerah pada waktu…Maafkan daku, karena rindu telah ku lepaskan pada langit biru…

Ijinkan aku berlalu, ini bukan karena keputusasaan, ini bukan karena pengkhianatan, ini bukan karena ketidakadilan, taukah engkau ini karena samudera kesabaran telah menenggelamkan aku dalam lautan nikmat keikhlasan

Seluas Langit Yang Tak Berbatas

Disepertiga malam Alhamdulillah saya terjaga dari lelap dalam keadaan baik-baik saja. Sayapun tenggelam dilautan kenikmatan untuk bersujud, dengan hati yang terpenuhi akan iman yang indah.   

Malampun telah pudar, mentari mengganti di ufuk fajar, kusematkan dibibir senyum yang mekar, mengawali hari dengan hati berbinar

Dengan Bismillah, saya mengawali aktifitas pada pagi ini. Setelah membereskan segala sesuatu di rumah dan anak-anak berangkat sekolah sayapun berkemas untuk melaksanakan kewajiban saya sebagai petugas pengamat hama dan penyakit tanaman yang bernaung di bawah Distan Aceh. 

Sebelum berangkat hati saya ingin sekali menulis, inilah tulisan saya yang mungkin tidak menarik untuk para pembaca tetapi sangat melegakan hati saya. Hati yang sempat terkoyak oleh luka yang tak berkesembuhan, hati yang penuh dengan bilur-bilur tak terbalut. Kini saya coba untuk menutupinya dengan lukisan dari kanvas keikhlasan.

Walaupun pekat dan pilu, Satu alenia dilembaran kisahku telah berlalu, Aku tidak lagi diam membisu, Aku tidak lagi tegak terpaku,  Aku lari kearah waktu membawa asaku

Dan pada umumnya, dikehidupan sehari-hari, semua orang mengharapkan hari ini akan lebih baik dari kemarin, begitu juga dengan saya. Adalah hal yang wajar sangat manusiawi, saya pun selalu mencari dan terus mencari untuk yang  terbaik di hari ini.

Ya … setelah kemarin ada satu alenia yang gelap di kisah hidup saya, hari ini saya berusaha sedikit demi sedikit untuk menutupinya, dengan harapan bahwa habis gelap terbitlah terang itu nyata di alenia-alenia kisah hidup saya selanjutnya…

Insyaallah, saya kuat menjalani kehidupan selanjutnya, walaupun mungkin akan ada ujian-ujian lagi. Saya sudah mempersiapkan diri dengan selimut kesabaran…ya ….. kesabaran seluas langit yang tak berbatas.

Dengan ridhaMu Ya Robb. Aku akan menapaki jalanku dengan penuh keyakinan. Dengan ridhaMu Ya Robb aku akan menjalani takdirku dengan penuh keilkhlasan. Dengan ridhaMu Ya Robb aku akan menerima ujian dengan penuh kesabaran. Insyaallah.

#semoga

Satu Alenia Kisah Ku

Melewati renungan malam tahun baru hijriah tadi malam, seakan semua tertulis jelas aksara demi aksara perjalananku satu tahun terakhir ini. Begitu banyak yang terjadi mewarnai kisah hidupku. 

Satu alenia kisahku yang tertulis, seakan telah memenuhi lembaran kertas di satu waktu ku.Begitu panjang melelahkan, melumpuhkan hati ku, menguras air mata ku. 

Bahu tempatku bersandar menghilang. Dibawa prahara kehidupan, yang tak ada seorangpun mampu menghadangnya….

Alhamdulillah, kekuatan masih memeluk ragaku, keimanan masih mendekap hatiku. Walaupun pernah aku berfikir untuk menyudahi semua. “Ya….itu pikiran ku yang paling bodoh”.

Satu tahun berlalu, kisah baru tertulis mulai hari ini. Begitu banyak pinta terangkai dalam do’a. Entah sampai kapan jawab kan aku terima. Sabar, sabar dan sabar ku menunggu. Bersama zdikir malam ku yang panjang….

#terimakasih teruntuk adik ku Nurul Aini dan abang ku Malim Diwa. Karena kalian aku kuat menerima ujian ini


Ingin ku, Hanya RidhoNya (dalam rangka menyemangati diri sendiri)

Ku dapati mimpi semalam. Ingin ku pergi mengembara di alamnya dan tak pernah kembali lagi. Namun gulita telah berganti dengan surya fajar, bulan dan bintang pun telah bersembunyi….tertatih aku beranjak dari lelapku…

Keindahan pagi bagi sang pemilik Adalah warna untuk memulai hari ini. Aku ingin berjalan meninggalkan mimpi semalam. Menyusuri celah- celah yang tersisa menuju cahaya abadi. Yang telah lalu biarlah berlalu walaupun harapan masih berpeluk awan. Aku masih punya banyak waktu untuk aku berdiri tegak.

Aku tak peduli pada bisik yang sampai pada telinga, bukankah aku lebih tegar dari sang pendengki. Aku tidak peduli pada cela yang sampai pada jiwa, bukankah aku lebih kuat dari sang pengeluh. Ah….sesalku kenapa aku harus mengenalmu.

Aku tahu lunglai tubuhku karena aku lemah, keropos tulangku karena aku rapuh. Tapi lihatkah engkau, begitu besar dan kokohnya keinginan dan semangat ku untuk bangkit? Aku harus hidup. Satu puncak harapanku hanyalah RidhoNYA…

#semangatpagi

Karenamu…..(Kala senja di pantai Ulelheu Banda Aceh)

Termangu. Karenamu ku terdiam membisu diantara guratan waktu, anganku menjelajah sampai ke awan biru, berarak mengikuti arah sang bayu, yang tak ku tau kearah mana yang di tuju……

Takut. Karenamu aku terpaku  diantara deretan goresan tinta yang mengering, aku takut puisiku tak terbaca olehmu…aku takut kasihku tak terasa olehmu…aku takut rinduku tak sampai padamu….

Bingung. Karenamu aku terjebak diantara dua rasa yang menyesakkanku. Aku terdampar di dua persimpangan yang membingungkanku. Aku terperdaya oleh kasih dan rindu yang membelengguku….padamu aku mencari jawab akan mauku.

Lelah. Karenamu aku tertatih letih.Karenamu aku terkapar tak berdaya. Karenamu aku tenggelam dalam pahitnya kenyataan. Dan karenamu juga aku hanya mampu merajut kata dalam do’a panjangku setiap waktu…

Hari Ulang Tahunmu

Mengawali  langkahku pagi ini, seperti biasa tugas rutin pengamatan petak tetap dan pengamatan keliling. Tapi yang istimewa di hari ini, adalah karena hari ulang tahunmu. 
Tetapi hari ini tidak seperti tahun-tahun yang sudah, sekarang engkau begitu jauh dari pandangan, ragamu begitu sulit aku rengkuh, padahal andai engkau tahu betapa sakitnya aku menahan untuk bisa berlari dalam pelukmu……..

Duhai kekasih hati belahan jiwaku, benteng tinggi menghalangi engkau dari ku, padahal andai engkau tahu betapa merindunya aku akan belai kasihmu…..

Duhai sandaran hati harapan hidupku, walaupun pilu tanpamu aku tetap harus melanjutkan hidupku, aku mencoba bertahan meniti hari walaupun samar tapi pasti…

Waktupun berlalu terus berputar bersama roda kehidupan, perih, pedih, tawa canda, tangis dan air mata silih berganti datang mewarnai hariku……menjadikan aku kuat walau tak sekuat pohon kurma yang tumbuh si gurun pasir. Setidaknya membuat aku mampu bertahan menghadapi badai kehidupan ini….

Selamat ulang tahun, sayang…semoga Ridho Nya mengiringi langkah kaki disisa umurmu ini. Ijinkan aku tetap disini untuk memeluk hatimu…

Tak Terbilang

Malam itu ketika engkau menghilang,cemas melanda jiwaku, sejuta tanya menyelinap dalam benakku, luka mengoyak hatiku

Menggigil seluruh tubuhku, luruh dalam pilu, ketika angin malam datang membawa berita pilu, bagai ombak deras menyeretku ke pusaran, tanpa ada siapapun yang mampu menghadang…terjatuh aku dalam luka tak berkesembuhan

Mengais jawab aku dalam tanya, tapi tak juga aku dapatkan…kenapa? Mengapa? Bagaimana? Siapa? Kepalaku serasa berputar, mataku nanar memandang, letih jiwaku, lelah ragaku… 

Engkau di mana? Jawabmu tak terbilang…. Samar kudengar… Sampai benar-benar menghilang bersama angin malam. 

Aku terkapar dalam hamparan penyesalan, ketika aku tak mampu menahanmu…bahu tempatku bersandar terbang bersama awan, meninggalkan aku sendiri dalam rindu tak berkesudahan

Penghujung September

Ketika ku dapati diriku masih terpaku dalam waktu…kumerasa hampa terus menyiksa dalam dada, walau hari terus berganti dengan pasti, aku masih di sini…menunggumu

Lorong waktu terus kutelusuri, walau tak ku tahu dimana batas, kukumpulkan puing duka yang berserakan, menjadi serangkai harap bahwa engkau akan menemukan jalan pulang…

Dipenghujung September aku masih terbiar dalam diam….ku mencoba menyatukan hati yang terlanjur terburai berantakan, menjadi sederet kalimat dalam do’a, entah sampai kapan jawabkan kudapatkan……